Senin, 19 November 2012

Anak Suka Melukis Di Dinding Menandakan Kreativitas

Menurut anda, seorang anak yang melukis di dinding itu anak nakal atau anak kreatif  ? Jawabannya  tergantung pada sudut pandang.
Pernah mendengar  ibu ibu mengeluh, “anaknya nakal banget yah ? mencoret coret dinding yang bersih, memangnya tidak pernah di didik yah ?”
Banyaknya coretan  tak beraturan di dinding rumah memang sangat mengganggu. Terlebih jika dilihat dari kacamata kebersihan   dan estetika. Dinding menjadi kotor penuh coretan hingga tak sedap dipandang mata.
Namun penilaian itu akan berbeda  jika yang digunakan  adalah sudut pandang kreativitas anak. Justru dinding  penuh coretan menandakan anak sangat kreatif. Anak mampu mengekspresikan imajinasinya dalam bentuk visual. Disaat yang sama anak sedang mengasak kreativitasnya.

 Foto diatas memperlihatkan seorang anak sedang  melukis di dinding. Saya yakin dalam kondisi ini ia sedang berfikir dan menuangkan  imajinasinya dalam bentuk visual  agar dimengerti orang lain. Sebenarnya  ia mencoba untuk berkomunikasi dan menjelaskan apa yang ada difikirannya. Namun karena kemampuan motoriknya belum sempurna, jadilah sebuah lukisan  acak acakan

Lukisan diatas adalah “maha karya” seorang anak balita. Luar biasa bukan ? Menurut anda, gambar apakah itu ?
Saya  mencoba berkomunikasi dan menanyakan gambar apakah itu ? Dia menjawab bahwa itu adalah gambar gajah, cicak, ikan dan kucing. Mungkin anda menganggap jawaban itu lucu  dan mentertawakannya.
Sahabat blogger, tolong gambarkan saya  “gajah, cicak, ikan dan kucing” dalam lukisan abstrak, kira kira gambar seperti apa  dibenak anda ?
Jari jemari yang kotor pun akan dimaknai berbeda jika hanya melihat sepotong. Mungkin sebagian kita akan mengatakan bahwa ia anak bandel dan jorok. Sukanya  bermain kotor dan malas cuci tangan.

Jika foto jemari kotor tersebut disatukan dengan kedua foto diatas, maka ceritanya pun  berbeda. Coba lihat jari jemari anak anda, sering tampak kotor atau selalu putih bersih layaknya dinding yang baru di cat ?
Sumber : https://lambangsarib.wordpress.com/2012/11/19/anak-suka-melukis-di-dinding-menandakan-kreativitas/

Selasa, 13 November 2012

Tanda-tanda Anak Berbakat Melukis

  1. Suka mencorat-coret di kertas kosong maupun tembok rumah (anak balita).
  2. Sering mengamati gambar atau photo dan suka mengoleksinya.
  3. Mengagumi tokoh-tokoh film terutama film anak-anak dan menggambarnya dengan baik.
  4. Di waktu luang sering seakan berkhayal mengingat bentuk gambar dan akan cepat-cepat mengambil kertas dan pensil untuk menggambar.
  5. Bila melihat lukisan atau foto dari lukisan mengamati dengan teliti dan bertanya-tanya hal mengenai lukisan itu dan yang berhubungan.
  6. Jika dilatih atau diberi tahu tata cara melukis cepat memahami misalnya mengenai paduan warna, cara menggunakan kuas, cara membuat gradasi warna. Dengan petunjuk sekali atau dua kali anak dapat mengerti dan dapat mengatasi bila tingkat kesulitannya lebih tinggi
  7. Komposisi bidang gambar, komposisi warna dan bentuk secara naluri sudah ada dan hasilnya baik hanya tinggal sedikit pengarahan.
  8. Hasil lukisan-nya sudah memberikan kesan keindahan dan bahkan bisa juga mentakjubkan bagi yang melihat.
  9. Lebih suka menggambar bentuk dari khayalan-nya sendiri dari pada mencontoh, walau sekali waktu mencontoh dari gambar atau photo.
  10. Nilai menggambar di sekolahan baik rata-rata diatas delapan.
  11. Tekun menggambar dan memperhatikan petunjuk tata cara dari Gurunya.
  12. Buku gambarnya rapi tidak terlipat-lipat atau tidak kumal ( tidak lungset )
Sekian sedikit ulasan mengenai tanda-tanda Anak yang berbakat melukis, semoga bermanfaat untuk Anda para pembaca.

Sumber : https://berbakat.blogspot.co.id/

Rabu, 10 Oktober 2012

MELUKIS BAGI ANAK USIA DINI

Tujuan pendidikan seni untuk anak adalah untuk meningkatkan kreativitas, kepekaan rasa serta kemampuan mengutarakan pendapat melalui berkarya seni. Artinya anak-anak belajar seni bukan ditujukan untuk menjadikan mereka seniman. Keterampilan berkarya seni sebenarnya seperti keterampilan berbicara. Melalui seni anak dapat mengutarakan pendapatnya dalam bentuk gambar atau lainnya. Memahami karya seni anak tidak seperti memahami lukisan orang dewasa yang penuh dengan penataan warna dan bentuk-bentuk yang jelas. Lukisan anak adalah media untuk mengutarakan pendapatnya, di dalamnya terkandung seribu makna yang tidak dipunyai oleh orang tua. Anak melukis selayaknya bermain kertas atau benda-benda mainan yang lain.
A.    Melukis dan Manfaatnya bagi AUD
1.      Pengertian Melukis
Berdasarkan arti melukiskan adalah membayangkan, maka objek yang ada di depan mata dibayangkan, dikaitkan, diasosiasikan, diimajinasikan dengan objek yang pernah masuk dalam ingatan. Suatu contoh: misalnya, melihat kursi yang nyaman kemudian teringat kursi di rumah yang telah rusak. Dari perpaduan bentuk ini, kita berniat menciptakan dan membayangkan kursi yang masih baik, namun dirasakan tidak nyaman diduduki. Atau melambangkan kursi yang diduduki adalah jabatan yang menjanjikan, kursi lambang kedudukan dan seterusnya. Dan juga contoh lainnya misalnya kubayangkan wajahmu seperti bidadari dalam impianku semalam. Kata kubayangkan berarti memberikan kemungkinan mengajak seseorang untuk melamun dan meneruskan kepada hal yang hampir mirip dengan wajah yang di bayangkan. Bentuk ungkapan ini dapat berupa gambar yang dapat dilihat mata dengan realistis (nyata) maupun tidak (abstrak) yang mementingkan ungkapan pikiran dan rasa seketika dengan spontan. Gambaran ini dapat diubah warna maupun tampilan bentuknya sesuai dengan keinginan orang yang melukiskan. Melukis adalah memvisualkan (menyatakan bentuk) bayangan dalam bentuk gambar.
a.                   Perbedaan Melukis dan Menggambar
Perbedaan utama melukis dengan menggambar adalah: objek yang ditampilkan akan berbeda, walaupun objek yang diamati sama. Tujuan menggambar adalah melatih ketelitian melalui pengamatan dengan seksama. Contoh: Ketika seseorang menggambar alam benda, maka hasil karya harus sama dengan yang digambar, baik sifat maupun bentuknya. Namun, di dalam melukis, perupa diperbolehkan membayangkan dan mengubah warna atau bentuk (jika perlu) sehingga yang digambar adalah bayangan terhadap objek yang dihadapi. Melukis mempunyai sifat lebih bebas daripada menggambar. Keterikatan mencurahkan perasaan diperbolehkan sehingga objek yang dilihat seolah-olah sebagai dorongan untuk mencipta karya seni. Namun demikian, dalam konstelasi dunia seni lukis terdapat lukisan realis dan non-realis. Lukisan realis, yaitu lukisan yang menggambarkan kondisi nyata, pelukis mengarahkan objek lukisan kepada hal senyatanya. Lukisan non-realis, yaitu lukisan yang menampilkan figure-figur yang tidak senyatanya, yang tampak oleh mata secara wajar.
2.      Manfaat Melukis Bagi Perkembangan Anak
Manfaat menggambar sama dengan melukis. Proses kerja kejiwaan yang terjadi ketika anak melukis sama dengan menggambar. Oleh beberapa ahli, perbedaan melukis dan menggambar terletak pada hasilnya. Menggambar menghasilkan dominasi goresan atau garis dalam gambarnya, sedangkan melukis menghasilkan kesan kuas yang lebih menonjolkan warna. Melukis condong dikatakan lebih ekspresif dibandingkan dengan menggambar.
a.                   Melukis sebagai Media Mencurahkan Perasaan
Dalam beberapa buku psikologi terungkapkan bahwa terdapat alasan tertentu saat seseorang memilih warna. Bagi orang dewasa, pemilihan warna dipengaruhi oleh lokasi atau tempat tinggalnya. Sedangkan pada anak, sebagian anak telah mampu mengolah warna dengan jelas dan enak, mereka telah dapat mencoba mengkombinasikan atau menyusun warna sesuai dengan rasa, serta telah dapat menggunakan karya dan warna sebagai simbol untuk menyatakan sesuatu. Selain itu, sebagian anak juga telah mampu mencampur warna, baik pastel maupun cat air sebelum digunakan. Teori warna menjelaskan bahwa warna mempunyai simbol dan kesan rasa sebagai berikut :
1)                  Warna panas, dikatakan warna panas karena kelompok warna ini dapat mempengaruhi kesan tenang. Kelompok warna panas adalah merah, kuning, orange, putih.
2)                  Warna dingin, dikatakan dingin karena kelompok warna ini dapat mempengaruhi kesan sejuk. Kelompok warna dingin adalah biru, hijau.
b.                  Melukis sebagai Alat Bercerita (Bahasa Visual/Bentuk)
Bercerita sebenarnya usaha untuk berkomunikasi dengan orang lain. Mengingat cara berpikir anak masih dalam taraf global antara pikiran dan perasaan, maka pola tersebut kadang tampak pada perilaku nyata atau tertutup hanya dengan membayangkan. Ketika anak usia dini belum dapat mengontrol diri maka ia akan menggunakan bidang gambar seadanya. Anak-anak bercerita sambil menggambar tanpa melihat lukisan tersebut berbentuk atau tidak, asal seluruh kegiatan dapat dilakukan untuk menampung cerita yang diinginkan. Sekarang persoalannya adalah bagaimana cara membina anak agar dapat menikmati lukisannya?
Seorang guru dapat melakukan pengarahan kepada anak dengan :
1)                  Mengerem kegiatan menggambar yang tidak bermanfaat. Tipe anak yang ekspresif yaitu anak yang sering berkelakuan spontan akan merasakan kegiatan tersebut merupakan hambatan. Oleh karenanya, dengan mengerem anak ketika anak menumpang bentuk di atas bentuk yang ada, guru dapat mengarahkan dengan menunjukkan bahwa gambar yang dibuat sudah baik, tidak perlu ditumpang lagi.
2)                  Menerangkan secara logika, bahwa bentuk-bentuk yang dibuat telah menjelaskan cerita-cerita yang diinginkan.
3)                  Memberi contoh dengan gambar. Hal ini digunakan untuk meningkatkan apresiasi anak. Gambar atau lukisan dapat dipilih yang realis artinya gambar tersebut tampak jelas oleh penglihatan anak dengan tanpa menebak lagi. Anak diarahkan untuk mengerti susunan dan bentuk yang sesungguhnya.
c.                   Melukis berfungsi sebagai Alat Bermain
Kadang-kadang anak melukis tidak untuk mengutarakan pendapat saja melainkan juga untuk bermain. Warna yang dianggap menarik diperlakukan sebagai alat atau media permainan dengan jalan: (a) mencampur warna satu dengan warna yang lain sehingga menjadi gelap dan sulit membedakan satu dari yang lain. (b) mengombinasikan warna satu dengan warna lainnya, (c) menambahi bentuk dengan bentuk baru, warna baru (mewarnai) atau menempel dengan bahan lain. Kegiatan yang dilakukan anak merupakan kegiatan yang wajar sebagai alat bermain. Namun, jika anak akan bermain warna dengan barang-barang yang sudah baik, yang ada di rumah/di kelas maka Anda perlu memberikan perhatian agar anak tidak terbiasa melakukan kegiatan suka merusak.
d.                  Melukis dapat Melatih Ingatan
Melukis adalah menggambar bayangan yang ada di benak. Bayangan di benak pelukis datang dari suatu peristiwa yang pernah dikenang, baik kenangan yang susah ataupun kenangan manis yang selalu ada dalam ingatan. Beberapa kejadian yang telah masuk dalam ingatan anak (memori) biasanya akan muncul ketika bentuk, warna, baju, permainan, perilaku orang atau kata-kata bujukan menuju ingatannya. Semua ingatan ini akhirnya muncul ketika anak sedang melukis.
e.                   Melukis dapat Melatih Berpikir Komprehensif (Menyeluruh)
Kaitan melukis dengan perkembangan berpikir maupun perkembangan perasaan tinggi. Ketika anak akan mencari ide dan gagasan, pikiran anak akan menjangkau terlebih dahulu objek yang akan ditampilkan, contohnya: Melukis keramaian kota. Saat berpikir, anak akan membayangkan kota yang pernah dilihat, sehingga mungkin ada dalam satu anak yang dalam lukisannya akan menampilkan hiruk-pikuknya suasana kota. Sedangkan pada lukisan dari anak yang lain, akan menggambarkan hasil pikirannya tentang salah satu peristiwa yang menarik perhatiannya dari keramaian kota, misalnya adanya tabrakan mobil dan ditampakkan salah satu supir atau pengendara yang terluka. Kemungkinan lukisan yang lain hanya mengungkapkan satu orang anak yang lari mengejar orang tuanya sambil menangis.
Saat anak berpikir dan melukis keramaian kota, hal itu sebenarnya didapat melalui dua imajinasi anak berikut. (a) melihat keramaian kota dengan bentuk tiga dimensi serta hiruk-pikuknya akan dicatat dalam medium dua dimensi, berarti terjadi berpikir abstraksi. Kejadian tersebut dirangkai dengan imajinasi anak sebagai pernyataan subjektivitas, dapat memberikan dan melatih kemampuan anak dalam mengungkapkan peristiwa dan mengungkapkan dalam bentuk gambar. (b) Suatu kejadian merupakan rangkaian peristiwa yang berlatar belakang banyak. Melukis merupakan latihan mengamas berbagai peristiwa, bentuk dan rasa menjadi catatan visual. Oleh karenanya, beberapa ahli memberikan istilah melukis sebagai bahasa visual, mencatat kejadian menjadi catatan bergambar. Menfaat melukis bagi perkembangan daya nalar tinggi berupa pengembangan daya tangkap kompherensif dan cara mengungkapkan secara sistematis namun ekspresif.
f.                   Melukis sebagai Media Sublimasi Perasaan
Pada suatu ketika, anak diminta gurunya untuk melukis keadaan di rumah. Namun, pada awalnya anak tidak bersedia untuk melukis bahkan mengganggu teman-temannya yang sedang melukis, dan tiba-tiba saja guru meminta anak untuk melukis, anak itu kemudian berlari ke luar kelas dan mengekspresikan dirinya dengan berlari-lari dan memainkan beberapa batu yang dibayangkan sebagai mobil. Tidak lama kemudian, anak masuk kek kelas dan langsung melukis dengan proses sebagai berikut.
“Menggambar satu mobil dengan fasilitas lengkap dan diberi warna kuning; gambar ini kemudian ditambahkan satu kendaraan lagi juga berupa mobil berwarna biru. Ketika dua mobil sudah mulai digambar dengan berlatar belakang rumah bertingkat tiba-tiba ditutup dengan cat air berwarna merah dan kemudian menirukan suara tabrakan...duar...seketika itu pula kedua lukisan mobil ini tidak tampak lagi”
Setelah diketahui dua mobil tersebut tidak lagi berujud pada lukisannya, maka guru segera menanyakan: “Nak, mana lukisan mobil itu?” Anak segera menjawab, mobilnya rusakl terbakar karena tabrakan. Peristiwa yang dilukiskan anak ini sebenarnya merupakan ungkapan rasa marahnya ketika melihat satu mobil mewah ditabrak oleh mobil lain yang menyebabkan perjalanan ke sekolah pada pagi hari kemarin terlambat.
g.                  Melukis dapat Melatih Keseimbangan
Secara keseluruhan cara membayangkan sesuatu oleh anak dianggap sebagai kegiatan menyeimbangkan antara objek dengan emosi. Pada kesempatan ini terjadi peristiwa yang bersamaan, sebab pikiran dan perasaan masih menyatu. Ketika pikiran dan perasaan telah mulai memisah, unsur bentuk kemungkinan akan menonjol, karena berjalan sesuai dengan perkembangan pengamatan anak. Pikiran anak dapat tertuangkan dengan jelas, mungkin berupa keinginannya atau kemungkinan pernyataan kesedihannya.
h.                  Melukis dapat Melatih Kreativitas Anak
Keadaan anak melukis ternyata  mempunyai perilaku yang khas dan tidak tetap, diantaranya (a) anak bernyayi kemudian melukis, (b) berlari dan mencontohkan objek yang dilukiskan terlebih dahulu kepada gurunya, (c) langsung melukis tanpa komentar, (d) melukis sambil bercerita. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang wajar, seperti halnya ketika orang dewasa bekerja.
i.                    Melukis Mengembangkan Rasa Kesetiakawanan Sosial yang Tinggi
Ternyata kegiatan anak dalam melukis bersama menunjukkan variasi kerja: (a) anak tidak pernah berbicara, (b) anak selalu menerangkan dan menjelaskan karyanya kepada anak di sampingnya, (c) anak selalu memberitahu kekurangan teman, (d) anak terbuka dan bertanya keinginan temannya. Dalam kegiatan ini, seorang gruru dapat melakukan kegiatan tindakan preventif. Dengan kegiatan ini dapat diperoleh manfaat bahwa dengan melukis bersama, anak akan terlatih memahami orang lain. Tujuan kompetensinya adalah memberikan rasa tanggung jawab pada dirinya serta memahami hak orang lain sesuai dengan kebutuhan.
B.     Peralatan dan Teknik Melukis
1.      Medium dan Bahan Melukis
Berdasarkan teknik, berkarya seni rupa dapat dikerjakan dengan cara konvensional dan inkonvensional. Cara konvensional adalah langkah yang dilakukan dengan jalan menggunakan peralatan sesuai standar pabrik serta sesuai dengan teknik yang diminta oleh pabrik. Misalnya: menggambar dengan pensil, pastel, cat air atau yang lain. Sedangkan teknik inkonvensional adalah cara yang digunakan seseorang untuk menciptakan gambar atau pun lukisan dengan bervariasi teknik. Sebagai contoh: teknik tutup lilin. Teknik ini mendahulukan menggambar dengan lilin penerang setelah gambar sketsa sudah dinyatakan siap dikerjakan. Kemudian menggambar dengan menggunakan pewarna cat air, ditumpangkan di atas gambar berlilin tersebut. Bagi kertas yang tidak tergores dengan lilin akan menyerap warna, sedang yang tidak, akan menyesuaikan dengan warna lilin.
Secara garis besar bahan berkarya rupa terdiri dari dua jenis, yaitu: (1) medium konvensional artinya medium yang sesuai dengan aturan penggunaannya seperti kertas, kanvas, hardboard dan papan. (2) medium inkonvensional, yaitu modifikasi medium yang sesuai dengan keinginannya, misalnya melukis di atas kain blaco, terpal atau plastik . Medium konvensional seperti kertas mempunyai aturan dan ukuran tertentu seperti ukuran A4 (kuarto), A3 2 x ukuran kuarto dan semakin kecil angka semakin besar ukuran kertas. Penyebutan ini untuk menyesuaikan dengan istilah percetakan. Kanvas adalah medium untuk melukis cat minyak. Bahan dasar kanvas adalah kain yang ditutup dengan cat minyak agar tidak mudah menyerap bahan warna minyak tersebut. Kanvas yang baik adalah kanvas dari bahan kain yang tidak mudah sobek serta tahan lama. Di samping itu kanvas diusahakan lentur sehingga mudah pemasangannya serta nantinya tidak mudah retak.
Kemudian perlengkapan lain adalah warna. Warna mempunyai banyak jenis, di antaranya adalah: (1) warna alami termasuk pensil, daun, arang, (2) warna artificial (buatan) dari bahan minyak seperti pastel, cat minyak dan cat ducco; dari bahan lilin berupa pastel lilin; dari bahan pigmen kapur seperti cat air, cat poster, akrilik dan sintetik. Bahan lain yang berupa pewarna kimiawi adalah bahan warna sintetik batik. Warna-warna ini merupakan warna campuran dari dua jenis bahan kimia garam dan naphtol, serta akan muncul ketika dicampur.
Pensil merupakan bahan warna dan sekaligus sebagai alat. Pensil tersebut mempunyai berbagai ukuran sesuai dengan karakteristiknya, ukuran karakter tertera pada pangkal pensil seperti H, HB, atau 2B. Masing-masing kode menunjukkan sifat keras lunaknya pensil.
2.      Peralatan Melukis
a.                   Pensil
Hasil lukisan dengan teknik kering seperti pensil tampak pada arsir atau goresan. Pada umumnya anak-anak suka menggambar dengan cepat. Jika alat yang digunakan tidak sesuai dengan tingkat kecepatannya berekspresi, maka anak akan segera kehilangan ide berikutnya. Oleh karenanya, dengan memahami sifat anak dalam menggambar, seorang guru perlu memilihkan pensil warna yang cocok serta bahan kertas yang sesuai.
b.                  Arang
Pada prinsipnya alat gambar arang ini sama dengan pensil konte, yaitu dengan menghitamkan terlebih dahulu kertas gambar, kemudian menghapusnya. Karya gambar dengan arang relative mudah terhapus oleh tangan, oleh karenanya dapat ditutup dengan fixative yang dapat dibeli dari toko langsung berupa car laquer (liquid) yang bening atau sering disebut dengan cat semprot tangan (pilox) clear.
c.                   Pena, Spidol
Alat ini digunakan untuk mengantarkan tinta sebagai pewarna gambar. Ujung pena berbentuk runcing, tumpul bulat atau tumpul patah lurus. Hasil penggunaan alat ini bisa berbentuk tipis-runcing, tebal berkesan tidak teratur dan blok besar. Beberapa penggunaan pena ini mengatakan bahwa pena cocok untuk membuat gambar berbentuk blok dan garis (runcing).
d.                  Ranting Pohon
Kesan yang ditimbulkan pena berbentuk formal, artinya garis yang dihasilkan sesuai dengan bentuk ujung pena yang tersedia. Untuk membuat bentuk yang artistic dengan kesan bervariasi dapat menggunakan ranting pohon yang dipatahkan. Patahan ini akan membentuk kesan yang dikehendaki sesuai dengan keinginan (ekspresi).
e.                   Potongan Papan
Beberapa karya lukis juga dapat diselesaikan dengan peralatan sederhana seperti di bawah ini: papan yang dipotong segi empat mirip dengan batangan papan kecil dan digunakan untuk menyelesaikan melukis secara blok warna. Bahan warna bisa berasal dari cat air ataupun cat minyak dengan tujuan menghasilkan kesan blok. Biasanya dipilih papan yang mudah menyerap bahan dasar air.
f.                   Kuas
Terdapat bermacam-macam ukuran kuas; mulai kuas yang mempunyai efek runcing sampai dengan tebal seperti efek yang dihasilkan oleh batangan papan. Secara normal, jenis kuas untuk cat air berbeda dengan jenis kuas untuk cat acrylic serta cat minyak. Unsur yang membedakan adalah bahan dasar dan penyerapan bahan warna. Untuk cat air biasanya kuas lebih halus dan mudah menyerap air seperti bulu kuda atau sejenisnya. Sedangkan untuk cat minyak dan poster kuas cenderung lebih berserat tebal. 
g.                  Karet Tebal dan Karet Tipis
Jika papan kayu tersebut bersifat keras dan kurang dapat menyerap bahan warna maka kuas dengan karet batangan lebih dapat menyerap air, sehingga dapat digunakan lebih lama. Namun, bahan ini mempunyai kelemahan karena setiap akan berganti warna berarti anda harus berganti alat, karena tidak praktis harus mencuci alat tersebut setiap saat. Kesan yang diperoleh dari goresan karet ini dapat diatur sesuai dengan kebutuhan anda.
h.                  Krayon Pastel
Alat menggambar ini sekaligus berfungsi sebagai pewarna berbentuk batangan. Kesan pastel sesuai dengan pegangannya, jika anda ingin membuat blok kertas pembungkus pastel dilepas terlebih dahulu. Cara memegang krayon pastel tidak berdiri tetapi dibuat tidur. Selanjutnya, penggunaan krayon pastel berdasarkan jenis krayon pastel: (a) krayon pastel minyak atau disebut oil krayon pastel, sifat pastel ini lunak dan warna yang dipergunakan memberi kesan pekat oleh karenanya disenangi oleh anak untuk melukis. (b) krayon pastel lilin atau (wax), yaitu krayon pastel yang sulit mengeluarkan warna. Kesan yang ditimbulkan transparan. (c) krayon pastel kapur atau sering disebut jenis chalk pastel ini mudah terhapus oleh tangan, sehingga diperlukan kertas yang berserat tebal.
i.                    Pup
Pup adalah sejenis alat buatan sendiri yang terbuat dari bahan kain dan isi dari kain perca, busa (spons) atau kapas. Cara membuatnya: sediakan kain ukuran 25 x 25 cm di tengah diisi dengan kain perca atau busa kemudian tutupkan atau bungkuskan sehingga membentuk bulatan. Bulatan yang sudah jadi tadi diikat dengan kencang agar isi yang terbungkus tidak mudah lepas.
j.                    Jari Tangan
Sifat anak usia dini ketika melukis ingin cepat agar ide dan gagasannya tidak kandas dan menghilang. Oleh karena itu, anak dengan nekat mengambil warna yang ada secara langsung dari warna yang telah disediakan. Dengan jari-jarinya anak merasakan bahwa ia dapat lebih cepat menyelesaikan lukisannya. Akhirnya, anak mencelupkan tangannya sendiri ke cat warna. Teknik melukis langsung dengan pewarna tersebut dinamakan finger painting, yaitu teknik melukis dengan jari tangan secara langsung tanpa menggunakan bantuan alat. 
3.      Melukis Inkonvensional
Pada prinsipnya melukis inkonvensional merupakan cara berkreasi menggunakan peralatan dan teknik yang tak biasa. Cara kerjanya seperti eksperimentasi (percobaan). Cara ini juga disenangi oleh anak karena sifat bermainnya lebih banyak dan anak dapat menginterpretasi bermacam-macam teknik dan mencoba dan menggabungkan sendiri.
a.                   Teknik Tutup
Teknik tutup merupakan teknik campuran antara teknik basah dengan teknik kering. Teknik basah karena menggunakan medium cat air. Sedangkan teknik kering karena medium lain yang akan digunakan adalah medium pastel. Teknik tutup ini dapat dimanfaatkan oleh anak tipe ekspresif karena membutuhkan kecepatan berekspresi. Teknik tutup ini juga dapat diartikan menutup sebagian gambar dengan berbagai macam bahan dan kemudian diselesaikan dengan pewarnaan secara menyeluruh.
b.                  Teknik Campur Warna Kering dan Warna Basah
Teknik ini melalui dua proses yang bersifat tidak terduga karena gambar yang dihasilkan tidak dapat dirancang terlebih dahulu. Lukisan yang dihasilkan berupa kombinasi cat kayu atau cat minyak dengan pemisah air.
c.                   Melukis dengan Teknik Gesek Benang
Teknik ini memerlukan persiapan banyak yaitu: mewarnai masing-masing benang dengan warna yang dikehendaki. Benang-benang tersebut disusun sedemikian rupa dengan bertumpuk-tumpuk, namun ujung benang diperlihatkan. Tumpukan benang tersebut ditutup dengan kertas guna penekanan. Dalam hal ini langkah dilanjutkan dengan menutup dan menekan kertas penutup dengan tangan dan selanjutnya benang ditarik satu persatu. Hasil yang ditimbulkan berupa bentuk bunga terompet.
d.                  Melukis dengan Teknik Ikat-Celup
Sebagian orang mengatakan bahwa teknik ikat celup tidak termasuk melukis, karena tidak secara langsung membuat lukisan. Teknik ini menggunakan cara membuat ikatan-ikatan terlebih dahulu, dan hasilnya pun belum dapat diduga seperti apa. Oleh karenanya tidak digolongkan ke dalam melukis. Sebagian orang mengatakan prinsip melukis dengan teknik ikat celup terletak pada penempatan ikatan serta variasi celupan dengan beberapa warna. Teknik ini dapat digolongkan ke dalam melukis inkonvensional, karena tergantung pada kelihaian seseorang dalam memprediksi hasil ikatan tersebut.
e.                   Melukis dan Menempel
Untuk membuat gambar dengan cara menempel pada kertas, anda harus memperhatikan jenis bahan yang akan ditempelkan. (a) jika bahan yang ditempelkan berupa kertas sejenis dan potongan kertas tersebut merupakan blok bentuk, maka dinamakan azaleyo. (b) namun, jika potongan kertas yang ditempel berfungsi sebagai butiran warna-warna maka disebut dengan mozaik, (c) jika yang ditempelkan berupa benda trimatra dan jenis yang berbeda untuk bahan tersebut disebut dengan kolase.
f.                   Melukis dengan Kibasan Warna Cat Air
Melukis dengan teknik kibasan warna cat air ini digolongkan teknik inkonvensional. Hasil kibasan warna cat air tidak dapat diramalkan. Oleh karena itu, yang di pentingkan dalam penampilannya adalah tata letak dan komposisi warna yang akan dilihat dengan keseimbangan semu (occult axial balance).
C.    Gagasan Melukis bagi AUD
1.      Prinsip Memotivasi Aud Untuk Melukis
Kegiatan melukis bagi seseorang umumnya dapat dilakukan melalui 3 tahapan,yaitu: (a) Eksplorasi : mencari ide dengan berbagai cara, berdasarkan referensi atau buku. Buku yang dibaca harus anda pahami isi dan maknanya kemudian bayangkan isi buku tersebut, dan akhirnya wujudkanlah menjadi karya lukis. (b) Eksperimentasi : tahap mencoba untuk mencari pengalaman, cara yang ditempuh bermacam-macam:
1.      Mencoba alat yang paling disukai, kemudian mencoba berkarya tanpa merasa takut jika terdapat kesalahan.
2.      Mencoba mengubah bentuk dari bentuk realistic menuju abstrak, demikian juga sebaliknya. Bentuk-bentuk tersebut kemudian dibuat menjadi fungsi baru atau yang berbeda dari pada yang lain.
3.      Mencoba membuat eksperimen bahan atau medium berkarya. Biasanya terdapat medium konvensional seperti kertas dan kanvas.
(c) Kreasi/Mencipta : Anak harus diberi banyak motivasi oleh pendidik sebagai jalan membuka ide dan pikiran yang baru untuk mencipta. Sesuai dengan teori motivasi. Kata motivasi memiliki 3 bentuk dasar,yaitu:
1.      Motivasi Artistik : dorongan menggambar karena melihat sesuatu objek yang indah, sehingga tampak dalam gambar berupa tata susunan yang artistik.
2.      Motivasi Penalaran : dorongan berkarya seni dari pandangan objek yang mempunyai struktur menarik, sehingga anak berkeinginan menggambar.
3.      Motivasi Imajinasi : dorongan menggambar dari imajinasi anak. Anak membayangkan sesuatu, mungkin cita-cita atau bentuk yang lain hingga terwujud lukisan.
Bentuk motivasi adalah internal dan eksternal. Motivasi internal adalah dorongan kepada anak dengan menyentuh alam pikiran dan perasaan anak. Hal ini sangat dibutuhkan karena dorongan internal ini akan menumbuhkan alam pikiran yang imajinatif serta memberikan dorongan untuk menyeimbangkan pikiran dan perasaan. Kegiatan ekspresi dengan melukis dapat ditumbuhkan dengan jalan memotivasi anak sedini mungkin, yaitu dengan memberikan gagasan baru. Sebenarnya anak telah mempunyai gagasan sebelum diberi motivasi. Namun, karena terdapat kesenjangan antara persepsi dengan gagasan maka gagasan sering tak muncul. Kekaburan persepsi tersebut dapat disentuh dengan berbagai cara, misalnya melalui sentuhan cerita ataupun gambar yang diberikan kepada anak untuk ditebak maknanya. Sentuhan tersebut juga dapat muncul melalui suara-suara yang menjadikan ingatan serta gambaran yang akan datang muncul, bisa berupa suara halus maupun suara kasar. Misalnya memperdengarkan suara musik dan suara hewan tertentu yang dapat mengundang ingatan dan asosiasi anak untuk berimajinasi bentuk berdasarkan suara.
2.   Model Pemberian Motivasi Melukis
Agar pendidik dapat memotivasi anak usia dini untuk melukis,pendidik dapat melakukan model-model berikut.
a.                   Melukis Cerita
Cerita merupakan wacana yang paling disukai oleh anak, terutama di masa pertumbuhan untuk pengenalan dirinya. Cerita yang diberikan kepada anak dapat disesuaikan dan dikondisikan kepadanya seiring dengan perkembangan pikiran dan daya emosinya. Anak usia 2 tahun senang melihat dan mencoba menghafal situasi sekitarnya, sehingga cerita tentang situasi sekitarnya dapat dipersonifikasikan. Beberapa pendidik mengartikan belajar melukis hanya peningkatan teknik membuat bentuk serta pewarnaannya. Anak pada usia perkembangan, yaitu anak pada usia 2 tahun termasuk usia yang sensitive karena sedang mengalami usia perkembangan kosakata dan pengetahuannya. Mereka memparkaya pengetehuan dengan bertanya kepada siapa saja dan yang paling kuat pengaruhnya adalah orang terdekat.
b.                  Melukis dengan Berdiskusi Terlebih Dahulu
Anak harus berdiskusi dengan pendidik atau pendampingnya tenteng objek yang akan dilukis. Setelah mengetahui tugas yang diberikan, tugas tersebut ditanyakan kepada anak lain, untuk mengetahui kejelasannya. Selajutnya anak dapat melanjutkan tugas melukisnya.
c.                   Objek dan Isi Lukisan
Sebelum melukis, pendidik memberi gambaran atau lukisan yang realistik. Lalu anak diminta mengamati dan member komentar atau lukisan yang diperlihatkan pendidik. Setelah itu anak-anak baru diminta untuk melukis apa yang telah dilihatnya.
d.                  Melukius Lagu
Guru mengajarkan anak untuk bernyanyi “bintang kecil”. Setelah selesai bernyanyi, pendidik dapat meneruskan dengan bercerita pada anak-anak tentang angkasa yang berisi planet serta dapat pula digunakan untuk pesawat terbang.
e.                   Melukis Puisi
Prosedur melukis puisi sama dengan melukis nyanyian. Puisi yang ditampilkan merupakan sentuhan yang dapat memotivasi anak untuk berkarya. Puisi tersebut dapat diciptakan oleh anak atau dibuat oleh pendidik. Selanjutnya anak disuruh mengomentarinya.
f.                   Melukis Gerakan dan Tarian
Sebelum memulai melukis,ajak anak-anak untuk memperhatikan suatu tarian yang di peragakan didepan kelas, kemudian arahkan anak-anak agar dapat memberikan komentar pada tarian tersebut.
g.                  Melukis Kesedihan dan Kesenangan
Untuk model melukis kesedihan dan kesenangan, sebelum memulai melukis, ajak anak-anak merenungkan hal-hal yang telah membuat hati mereka sedih atau senang. Atau, adakan kegiatan tanya jawab dengan anak-anak tentang hal-hal yang dapat membuat mereka bersedih hati atau sebaliknya.    

Sumber : http://melyloelhabox.blogspot.co.id/2012/10/melukis-bagi-anak-usia-dini.html     

Kamis, 20 September 2012

Pendidikan bagi Anak Berbakat dan Kreatif

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa :
  1. "Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus", (Pasal 5; ayat 4).
  2. "Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya", (pasal 12; ayat 1b).
“Anak berbakat adalah anak yang memiliki kecerdasan atau kelebihan yang luar biasa jika dibandingkan dengan anak-anak seusianya”. Hal ini merupakan berita yang menggembirakan bagi warga negara yang memiliki bakat khusus dan tingkat kecerdasan yang istimewa untuk mendapat pelayanan pendidikan sebaik-baiknya

1. Definisi Anak berbakat.
Anak berbakat adalah mereka yang memiliki kemampuan-kemampuan yang unggul dan mampu memberikan prestasi yang tinggi. Anak berbakat memerlukan pelayanan pendidikan khusus untuk membantu mereka mencapai prestasi sesuai dengan bakat-bakat mereka yang unggul. Bakat (aptitude) pada umumnya diartikan sebagai kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud.

Berbeda dengan bakat, “kemampuan” merupakan daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Kemampuan menunjukkan bahwa suatu tindakan (performance) dapat dilakukan sekarang. Sedangkan bakat memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat dilakukan dimasa yang akan datang. Bakat dan kemampuan menentukan prestasi seseorang. Jadi prestasi itulah yang merupakan perwujudan dari bakat dan kemampuan.

2. Ciri-Ciri Anak berbakat.
Ciri-ciri anak berbakat menurut Martinson (1974) adalah sebagai berikut :
  1. Gemar membaca pada usia lebih muda.
  2. Membaca lebih cepat dan lebih banyak memiliki perbendaharaan kata yang luas mempunyai rasa ingin tahu yang kuat.
  3. Mempunyai minat yang luas, juga terhadap masalah “dewasa” mempunyai inisiatif, dapat bekerja sendiri menunjukkan keaslian (orisinalitas) dalam ungkapan verbal.
  4. Memberi jawaban-jawaban yang baik.
  5. Dapat memberikan banyak gagasan.
  6. Luwes dalam berpikir.
  7. Terbuka terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungan.
  8. Mempunyai pengamatan yang tajam.
  9. Dapat berkonsentrasi untuk jangka waktu panjang, terutama terhadap tugas atau bidang yang diminati.
  10. Berpikir kritis, juga terhadap diri sendiri.
  11. Senang mencoba hal-hal baru.
  12. Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis yang tinggi.
  13. Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah.
  14. Cepat menangkap hubungan-hubungan (sebab akibat).
  15. Berperilaku terarah kepada tujuan.
  16. Mempunyai daya imajinasi yang kuat.
  17. Mempunyai banyak kegemaran (hobi).
  18. Mempunyai daya ingat yang kuat tidak cepat puas dengan prestasinya.
  19. Peka (sensitif) dan menggunakan firasat (intuisi).
  20. Menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan.
3. Anak-anak berbakat biasanya ditandai pula dengan :
  1. Kemampuan inteligensi umum yang sangat tinggi, biasanya ditunjukkan dengan perolehan tes inteligensi yang sangat tinggi, misal IQ diatas 120.
  2. Bakat istimewa dalam bidang tertentu misalnya bidang bahasa, matematika, seni, dan lain-lain. Hal ini biasanya ditunjukkan dengan prestasi istimewa dalam bidang-bidang tersebut.
  3. Kreativitas yang tinggi dalam berpikir, yaitu kemampuan untuk menemukan ide-ide baru.
  4. Kemampuan memimpin yang menonjol, yaitu kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi orang lain untuk bertindak sesuai dengan harapan kelompok.
  5. Prestas-prestasi istimewa dalam bidang seni atau bidang lain, misalnya dalam seni musik, drama, tari, lukis, dan lain-lain.
4. Tanda-tanda Umum Anak Berbakat.
Sejak usia dini sudah dapat dilihat kemungkinan ada atau tidaknya bakat tertentu dari anak. Sebagai contoh, “anak yang baru berumur dua tahun tetapi lebih suka memilih alat-alat mainan untuk anak berumur 6-7 tahun atau anak usia tiga tahun tetapi sudah mampu membaca buku-buku yang diperuntukkan bagi anak usia 7-8 tahun. Mereka akan sangat senang jika mendapat pelayanan seperti yang mereka harapkan.

Anak yang memiliki bakat istimewa sering kali memiliki tahap perkembangan yang tidak serentak. Ia dapat hidup dalam berbagai usia perkembangan, misalnya : anak berusia tiga tahun, jika sedang bermain ia terlihat seperti anak seusianya, tetapi jika sedang membaca ia menampilkan sikap seperti anak berusia 10 tahun, jika mengerjakan soal matematika ia seperti anak berusia 12 tahun, dan jika berbicara seperti anak berusia lima tahun.

Yang perlu dipahami adalah bahwa anak berbakat umumnya tidak hanya belajar lebih cepat, tetapi juga sering menggunakan cara yang berbeda dari teman-teman seusianya. Hal ini tidak jarang membuat guru di sekolah mengalami kewalahan, bahkan sering merasa terganggu dengan anak-anak seperti itu. Di samping itu anak berbakat istimewa biasanya memiliki kemampuan menerima informasi dalam jumlah yang besar sekaligus. Jika ia hanya mendapat sedikit informasi maka ia akan cepat menjadi "kehausan" akan informasi.

Di kelas Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Dasar, anak-anak berbakat sering tidak menunjukkan prestasi yang menonjol. Sebaliknya justru menunjukkan perilaku yang kurang menyenangkan misalnya ; tulisannya tidak teratur, mudah bosan dengan cara guru mengajar, terlalu cepat menyelesaikan tugas tetapi kurang teliti, dan sebagainya. Yang menjadi minat dan perhatiannya kadang-kadang justru hal-hal yang tidak diajarkan di kelas. Tulisan anak berbakat sering kurang teratur karena ada perbedaan perkembangan antara perkembangan kognitif (pemahaman, pikiran) dan perkembangan motorik, dalam hal ini gerakan tangan dan jari untuk menulis. Perkembangan pikirannya jauh lebih cepat daripada perkembangan motoriknya. Demikian juga seringkali ada perbedaan antara perkembangan kognitif dan perkembangan bahasanya, sehingga dia menjadi berbicara agak gagap karena pikirannya lebih cepat daripada alat-alat bicara di mulutnya. Tapi itu tidak terjadi pada semua anak berbakat, hanya beberapa dari mereka saja.

5. Tujuan dari pendidikan anak berbakat.
Tujuan pendidikan anak berbakat adalah agar mereka menguasai sistem konseptual yang penting sesuai dengan kemampuannya, memiliki keterampilan yang menjadikannya mandiri dan kreatif, serta mengembangkan kesenangan dan kegairahan belajar untuk berprestasi.

6. Kebutuhan dan Pelayanan bagi Anak Berbakat.
Kebutuhan pendidikan anak berbakat ditinjau dari kepentingan anak berbakat itu sendiri, yaitu yang berhubungan dengan pengembangan potensinya yang hebat. Untuk mewujudkan potensi yang hebat itu, anak berbakat membutuhkan peluang untuk mencapai aktualisasi potensi yang dimilikinya melalui penggunaan fungsi otak, peluang untuk berinteraksi, dan pengembangan kreativitas dan motivasi internal untuk belajar berprestasi. Dari segi kepentingan masyarakat, anak berbakat membutuhkan kepedulian, pengakomodasian, perwujudan lingkungan yang kaya dengan pengalaman, dan kesempatan anak berbakat untuk berlatih secara nyata.

Selanjutnya dalam menentukan jenis layanan bagi anak berbakat perlu memperhatikan beberapa komponen. Komponen persiapan penentunan jenis layanan seperti, mengidentifikasi anak berbakat merupakan hal yang tidak mudah, karena banyak anak berbakat yang tidak menampakkan keberbakatannya dan tidak dipupuk. Untuk mengidentifikasi anak berbakat perlu menentukan alasan atau sebab mencari mereka sehingga dapat menentukan alat indentifikasi yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. Misalnya ; jika memilih kelompok Matematika, maka pendekatannya harus mengarah pada penelusuran bakat matematika.

Selanjutnya komponen alternatif implementasi layanan meliputi ; ciri khas layanan, strategi pembelajaran dan evaluasi. Hal-hal yang diperhatikan dalam ciri khas layanan adalah adaptasi lingkungan belajar seperti usaha pengorganisasian tempat belajar (sekolah unggulan, kelas khusus, guru konsultan, ruang sumber, dll). Selain itu ada adaptasi program seperti, usaha pengayaan, percepatan, pencanggihan, dan pembaharuan program, serta modifikasi kurikulum (kurikulum plus, dan berdiferensiasi).

Berkaitan dengan strategi pembelajaran bahwa strtategi pembelajaran yang dipilih harus dapat mengembangkan kemampuan intetelektual dan non intelektual serta dapat mendorong cara belajar anak berbakat. Karena itu anak berbakat membutuhkan model layanan khusus seperti bidang kognitif-afektif, moral, nilai, kreativitas, dan bidang-bidang khusus. Evaluasi pembelajaran anak berbakat menekankan pada pengukuran dengan acuan kriteria dan pengukuran acuan norma.

Pemberian program khusus untuk pendidikan anak berbakat ini dibuat karena anak-anak berbakat mempunyai kebutuhan pendidikan khusus. Anak-anak ini telah menguasai banyak konsep ketika mereka ditempatkan di satu kelas tertentu, sehingga sebagian besar waktu sekolah mereka akan terbuang percuma. Mereka mempunyai kebutuhan yang sama dengan siswa-siswa lainnya yaitu, kesempatan yang konsisten untuk belajar bahan baru dan untuk mengembangkan perilaku yang memungkinkan mereka mengatasi tantangan dan perjuangan dalam belajar sesuatu yang baru.

Akan sangat sulit bagi anak-anak berbakat ini memenuhi kebutuhan tersebut bila mereka ditempatkan dalam kelas yang heterogen (Winebrenner & Devlin, 1996). Anak berbakat adalah anak yang memiliki kemampuan dan minat yang berbeda dari kebanyakan anak-anak sebayanya, maka agak sulit jika anak berbakat dimasukkan pada sekolah tradisional, bercampur dengan anak-anak lainnya.

Di kelas-kelas seperti itu anak-anak berbakat akan mendapatkan dua kerugian yaitu :
  1. Anak berbakat akan frustrasi karena tidak mendapat pelayanan yang dibutuhkan.
  2. Guru dan teman-teman kelasnya akan bisa sangat terganggu oleh perilaku anak berbakat tadi.
7. Beberapa pelayanan yang dapat diberikan pada anak berbakat adalah :
  1. Menyelenggarakan program akselerasi khusus untuk anak-anak berbakat.
    Program akselerasi ini yaitu dengan cara "lompat kelas" artinya, anak dari Taman Kanak-Kanak misalnya tidak harus melalui kelas I Sekolah Dasar tetapi langsung ke kelas II atau bahkan ke kelas III Sekolah Dasar. Demikian juga dari kelas III Sekolah Dasar bisa saja langsung ke kelas V jika memang anaknya sudah matang untuk menempuhnya. Jadi program akselerasi dapat dilakukan untuk seluruh mata pelajaran (akselerasi kelas atau akselerasi untuk beberapa mata pelajaran saja). Dalam program akselerasi untuk seluruh mata pelajaran berarti anak tidak perlu menempuh kelas secara berturutan tetapi dapat melompati kelas tertentu misalnya, anak kelas I Sekolah Dasar langsung naik ke kelas III. Dapat juga program akselerasi hanya diberlakukan untuk mata pelajaran yang luar biasa saja. Misalnya saja anak kelas I Sekolah Dasar yang berbakat istimewa dalam bidang matematika, maka ia diperkenankan menempuh pelajaran matematika di kelas III, tetapi pelajaran lain tetap di kelas I. Demikian juga kalau ada anak kelas II Sekolah Dasar yang sangat maju dalam bidang bahasa Inggris, ia boleh mengikuti pelajaran bahasa Inggris di kelas V atau VI.
  2. Home-schooling (pendidikan non formal di luar sekolah).
    Cara lain yang dapat ditempuh selain model akselerasi adalah memberikan pendidikan tambahan di rumah atau di luar sekolah, yang sering disebut home-schooling. Dalam home-schooling orang tua atau tenaga ahli yang ditunjuk bisa membuat program khusus yang sesuai dengan bakat istimewa anak yang bersangkutan. Pada suatu ketika jika anak sudah siap kembali ke sekolah, maka ia bisa saja dikembalikan ke sekolah pada kelas tertentu yang cocok dengan tingkat perkembangannya.
  3. Menyelenggarakan kelas-kelas tradisional dengan pendekatan individual.
    Dalam model ini biasanya jumlah anak perkelas harus sangat terbatas sehingga perhatian guru terhadap perbedaan individual masih bisa cukup memadai, misalnya maksimum 20 anak. Masing-masing anak didorong untuk belajar menurut ritmenya masing-masing. Anak yang sudah sangat maju diberi tugas dan materi yang lebih banyak dan lebih mendalam daripada anak lainnya, sebaliknya anak yang agak lamban diberi materi dan tugas yang sesuai dengan tingkat perkembangannya. Demikian pula guru harus siap dengan berbagai bahan yang mungkin akan dipilih oleh anak untuk dipelajari. Guru dalam hal ini menjadi sangat sibuk dengan memberikan perhatian individual kepada anak yang berbeda-beda tingkat perkembangan dan ritme belajarnya.
  4. Membangun kelas khusus untuk anak berbakat.
    Dalam hal ini anak-anak yang memiliki bakat/kemampuan yang kurang lebih sama dikumpulkan dan diberi pendidikan khusus yang berbeda dari kelas-kelas tradisional bagi anak-anak seusianya. Kelas seperti ini pun harus merupakan kelas kecil di mana pendekatan individual lebih diutamakan daripada pendekatan klasikal. Kelas khusus anak berbakat harus memiliki kurikulum khusus yang dirancang tersendiri sesuai dengan kebutuhan anak-anak berbakat. Sistem evaluasi dan pembelajarannyapun harus dibuat yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Kemampuan dasar atau bakat yang luar biasa yang dimiliki seorang anak memerlukan serangkaian perangsangan (stimulasi) yang sistematis, terencana dan terjadwal agar apa yang dimiliki, menjadi actual dan berfungsi sebaik-baiknya. Membiarkan seorang anak berkembang sesuai dengan azas kematangan saja akan menyebabkan perkembangan menjadi tidak sempurna dan bakat-bakat yang luar biasa yang sebenarnya mempunyai potensi untuk bisa diperkembangkan menjadi tidak berfungsi.

Tanpa pendidikan khusus yang meliputi pengasuhan yang baik, pembinaan yang terencana dan perangsangan yang tepat, mustahil seorang anak akan bisa begitu saja mengembangkan bakat-bakatnya yang baik dan mencapai prestasi yang luar biasa. Tanpa pendidikan khusus, bakat-bakat yang dimiliki akan terpendam (latent) atau hanya muncul begitu saja dan tidak berfungsi optimal.

8. Faktor yang perlu diperhatikan agar mencapai hasil yang diharapkan yakni :
  1. Faktor yang ada pada anak itu sendiri, yaitu perlunya mengenal anak, mengenal dalam arti mengetahui semua ciri khusus yang ada pada anak secara obyektif.
  2. Faktor kurikulum yang meliputi,
Isi dan cara pelaksanaan yang disesuaikan dengan keadaan anak (child centered). Kurikulum pada pendidikan khusus tidak terlepas dari kurikulum dasar yang diberikan untuk anak lain. Kurikulum khusus diarahkan agar perangsangan-perangsangan yang diberikan mempunyai pengaruh untuk menambah atau memperkaya program dan tidak semata-mata untuk mempercepat berfungsinya sesuatu bakat luar biasa yang dimiliki.

Isi kurikulum harus mengarah pada perkembangan kemampuan anak yang berorientasi inovatif dan tidak reproduktif serta berorientasi untuk mencapai sesuatu yang tidak hanya sekedar memunculkan apa yang dimiliki tanpa dilatih menjadi kreatif. Hal lain yang penting adalah tersedianya faktor lingkungan yang berfungsi menunjang. Tujuan institusional dan instruksional serta isi kurikulum yang disusun secara khusus bagi anak berbakat membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai.

Guru yang melaksanakan tugas-tugas kurikuler yang telah digariskan mempunyai peranan yang penting agar apa yang akan diajarkan bisa merangsang perkembangan seluruh potensi yang dimiliki serta berhasil melatih setiap aspek yang berkembang memperlihatkan fungsi-fungsi kreatif dan produktif.

9. Mengenai pelaksanaan pendidikan khusus untuk anak berbakat pada umumnya dikelompokkan dalam tiga bentuk :

  1. Pemerkayaan, yaitu pembinaan bakat dengan penyediaan kesempatan dan fasilitas belajar tambahan yang bersifat pendalaman kepada anak berbakat setelah yang bersangkutan menyelesaikan tugas-tugas yang diprogramkan untuk anak pada umumnya (independent study, projects, dan sebagainya).
  2. Percepatan, yaitu cara penanganan anak berbakat dengan memperbolehkan anak naik kelas secara melompat, atau menyelesaikan program reguler di dalam jangka waktu yang lebih singkat. Variasi bentuk-bentuk percepatan adalah antara lain early admission, advanced placement, advanced courses.
  3. Pengelompokan Khusus, dilakukan secara penuh atau sebagian, yaitu bila sejumlah anak berbakat dikumpulkan dan diberi kesempatan untuk secara khusus memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan potensinya.
Selain bentuk-bentuk pembinaan tersebut di atas, ada pula cara-cara pembinaan yang lebih bersifat informal, misalnya dengan pemberian kesempatan meninjau lembaga-lembaga penelitian-pengembangan yang relevan, atau pengadaan perlombaan-perlombaan.

10. Penyiapan Guru Untuk Anak Berbakat.
Kualifikasi guru untuk anak berbakat dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu :
  1. Kualifikasi profesi, persyaratan profesional / pendidikan antara lain meliputi : Sudah berpengalaman mengajar, menguasai berbagai teknik dan model belajar mengajar, bijaksana dan kreatif mencari berbagai akal dan cara, mempunyai kemampuan mengelola kegiatan belajar secara individual dan kelompok, menguasai teknik dan model penilaian, mempunyai kegemaran membaca dan belajar.
  2. Kualifikasi kepribadian, persyaratan kepribadian antara lain : bersikap terbuka terhadap hal-hal baru, peka terhadap perkembangan anak, mempunyai pertimbangan luas dan dalam, penuh pengertian, mempunyai sikap toleransi, mempunyai kreativitas yang tinggi, bersikap ingin tahu.
  3. Kualifikasi hubungan social, persyaratan hubungan sosial antara lain : dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, mudah bergaul dan mampu memahami dengan cepat tingkah laku orang lain (S.C.U. Munandar, 1981)
11. Implikasi bagi guru anak berbakat disimpulkan oleh Barbie dan Renzulli (1975) sebagai berikut :
  1. Guru perlu memahami diri sendiri, karena anak yang belajar tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang dilakukan guru, tetapi juga bagaimana guru melakukannya.
  2. Guru perlu memiliki pengertian tentang keberbakatan
  3. Guru hendaknya mengusahakan suatu lingkungan belajar sesuai dengan perkembangan yang unggul dari kemampuan-kemampuan anak.
  4. Guru memberikan tantangan daripada tekanan
  5. Guru tidak hanya memperhatikan produk atau hasil belajar siswa, tetapi lebih-lebih proses belajar
  6. Guru lebih baik memberikan umpan balik daripada penilaian
  7. Guru harus menyediakan beberapa alternatif strategi belajar
  8. Guru hendaknya dapat menciptakan suasana di dalam kelas yang menunjang rasa harga diri anak serta dimana anak merasa aman dan berani mengambil resiko dalam menentukan pendapat dan keputusan.
12. Peran Orang Tua dalam Memupuk Bakat dan Kreativitas Anak.
Orang tua yang bijaksana dapat membedakan antara memberi perhatian terlalu banyak atau terlalu sedikit, antara memberi kesempatan kepada anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya dan memberi tekanan untuk berprestasi semaksimal mungkin.

Ada beberapa hal yang memudahkan orang tua agar lebih mantap dalam menghadapi dan membina anak berbakat (Ginsberg dan Harrison, 1977 & Vernon, 1977) diantaranya adalah :
  1. Anak berbakat itu tetap anak dengan kebutuhan seorang anak. Jika ada anak-anak lain dalam keluarga, janganlah membandingkan anak berbakat dengan kakak-adiknya atau sebaliknya.
  2. Sempatkan diri untuk mendengarkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
  3. Berilah kesempatan seluas-luasnya untuk memuaskan rasa ingin tahunnya dengan menjajaki macam-macam bidang, namun jangan memaksakan minat-minat tertentu.
  4. Berilah kesempatan jika anak ingin mendalami suatu bidang, karena belum tentu kesempatan itu ada di sekolah.
  5. Kerjasama Antara Keluarga, Sekolah dan Masyarakat
Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama keluarga (orang tua), sekolah dan masyarakat. Keluarga dan sekolah dapat bersama-sama mengusahakan pelayanan pendidikan bagi anak berbakat, misalnya dalam memandu dan memupuk minat anak. Tokoh-tokoh dalam masyarakat dapat menjadi “tutor” untuk anak berbakat yang mempunyai minat yang sama.

13. Pergaulan Anak Berbakat.
Anak berbakat akan lebih suka bergaul dengan anak-anak yang lebih tua dari segi usia, khususnya mereka yang memiliki keunggulan dalam bidang yang diminati. Misalnya saja ada anak kelas II Sekolah Dasar yang sangat suka bermain catur dengan orang-orang dewasa, karena jika ia bermain dengan teman sebayanya rasanya kurang berimbang. Dalam hal ini para orang tua dan guru harus memakluminya dan membiarkannya sejauh itu tidak merugikan perkembangan yang lain.

Di dalam keluarga, orangtua mencarikan teman yang cocok bagi anak-anak berbakat sehingga ia tidak merasa kesepian dalam hidupnya. Jika ia tidak mendapat teman yang cocok, maka tidak jarang orang tua dan keluarga, menjadi teman pergaulan mereka. Umumnya anak berbakat lebih suka bertanya jawab hal-hal yang mendalam daripada hal-hal yang kecil dan remeh. Kesanggupan orang tua dan keluarga untuk bergaul dengan anak berbakat akan sangat membantu perkembangan dirinya.

14. Faktor-faktor yang mempengaruhi terwujudnya bakat seseorang.
Banyak faktor-faktor yang menentukan sejauh mana bakat seseorang dapat terwujud.
  1. Keadaan lingkungan seseorang seperti, kesempatan, sarana dan prasarana yang tersedia sejauh mana dukungan dan dorongan orang tua, taraf sosial ekonomi orang tua, tempat tinggal di daerah perkotaan atau di pedesaan dan sebagainya.
  2. Keadaan dari diri orang itu sendiri seperti minatnya terhadap suatu bidang keinginannya untuk berprestasi, dan keuletan-nya untuk mengatasi kesulitan atau rintangan yang mungkin timbul.
  3. Tingkat kecerdasannya (intelegensia), kecerdasan ditentukan baik oleh bakat bawaan (berdasarkan gen yang diturunkan dari orang tuanya) maupun oleh faktor lingkungan (termasuk semua pengalaman dan pendidikan yang pernah diperoleh seseorang, terutama tahun-tahun pertama dari kehidupan mempunyai dampak terhadap kecerdasan seseorang).
15. Pelayanan Anak Berbakat Intelektual di Masa yang Akan Datang.
Menurut Sidi (2004), model layanan pendidikan lain perlu dikembangkan oleh pemerintah guna memfasilitasi berbagai macam bidang keberbakatan, seperti :
  1. Akselerasi Bidang Studi, akselerasi untuk satu mata pelajaran yang menonjol dan sangat dikuasai siswa.
  2. Mentorship, melayani berapa pun jumlah siswa yang mampu mengikuti akselerasi, meskipun hanya satu siswa, harus tetap dilayani dengan metode mentorship atau self paced instruction.
  3. Sistem Kredit, menggunakan pelayanan akselerasi dengan sistem kredit.
  4. Pengayaan Materi pada Mata Pelajaran Tertentu : (full out program) untuk mata pelajaran atau pada hari tertentu saja sehingga anak bisa tetap bersama dalam kelas dengan anak-anak lainnya.
  5. Kelas Super Saturday, pelayanan belajar di mana pengayaan materi dilakukan setiap hari sabtu dalam berbagai bidang di luar mata pelajaran sekolah, seperti astronomi, psikologi, kelautan dsb. Kerja sama dengan pihak dari berbagai disiplin dapat membantu memfasilitasi berbagai jenis keberbakatan.
  6. Pendirian Pusat Keberbakatan, untuk mewadahi dan memberikan pelayanan terhadap anak berbakat kesenian, kebudayaan, olah raga dan lain-lain.
  7. Sertifikasi bagi Guru Pengajar Gifted, sertifikasi ini penting untuk menjaga kualitas layanan pendidikan anak berbakat dan guru harus dipacu untuk terus belajar, bahkan sampai gelar strata 3 (Doktor).
16. Tantangan Pelayanan Pendidikan Anak Berbakat di Masa Depan.
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan sebagai tantangan pelayanan pendidikan anak berbakat di masa depan (Sidi, 2004) antara lain adalah :
  1. Dukungan finansial di Indonesia yang belum memadai sehingga sangat diperlukan sumber dana baik dari luar negeri maupun dari APBN.
  2. Perlunya pengembangan organisasi pemerintah yang mewadahi masalah keberbakatan di Indonesia. Contohnya, menjadikan masalah keberbakatan menjadi salah satu tugas pokok dan fungsi direktorat jenderal sehingga ada direktorat yang membawahi masalah seleksi, pelatihan, kurikulum, program dan personalia.
17. Strategi Pengembangan di Masa yang Akan Datang.
Strategi pengembangan pelayanan pendidikan anak berbakat (Sidi, 2004) meliputi hal-hal berikut :
  1. Penyediaan, pengadaan dan peningkatan kemampuan SDM yang berkualitas.
  2. Proses pembelajaran yang berkualitas.
  3. Adanya frekuensi penelitian yang cukup dan berkualitas.
  4. Sosialisasi ke mancanegara (tingkat internasional).
DAFTAR PUSTAKA :
  • Didi Tarsidi - Dosen Universitas Pendidikan Indonesia/Yayasan Mitra Netra (Jaringan Mitra Netra @yahoo.com)
  • S.C.U. Munandar, Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah, Jakarta PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 1992.
  • Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasution, dkk, Anak-Anak Berbakat Pembinaan dan Pendidikannya. Jakarta CV. Rajawali, 1982.
Sumber : Wahid Suharmawan http://konselorindonesia.blogspot.com/
https://berbakat.blogspot.co.id/2012/09/pendidikan-bagi-anak-berbakat-dan.html