Sabtu, 24 Oktober 2015

Ini Manfaat Anak Suka Menggambar Sejak Dini


TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Menggambar bermanfaat untuk mengasah kemampuan seni anak.
Si kecil belajar bagaimana melukis semua hal, sesuai dengan imajinasi dan kreativitasnya.
Benda-benda yang dikenal maupun tidak dikenalnya, sosok yang biasa ia temui atau bahkan belum pernah sekalipun bertemu.
Selain itu, ia juga belajar memadumadankan warna, merangkai objek gambar, sehingga terciptalah sebuah kreasi seni si kecil dalam kertas maupun kanvas.
Nah, selain mengasah kemampuan seni, menggambar juga penting karena bermanfaat untuk mengekspresikan emosi anak.
Orangtua bisa melihatnya dari warna-warna yang dipilihnya hari itu, misalnya anak senang memilih warna-warna cerah, besar kemungkinan hatinya sedang gembira saat itu.
Menggambar juga bisa dimanfaatkan sebagai media penyalur emosi yang positif. Daripada menangis/tantrum, salurkan emosinya dengan membuat coret-coretan di atas kertas.
Lebih dari itu, menggambar juga bisa menjadi buah ekspresi kecerdasan interpersonal anak.
Bagaimana hubungan anak dengan orang-orang terdekatnya, yaitu keluarga. Bagaimana aktivitas, interaksi, dan komunikasi sehari-hari yang diekspresikan dalam gambar.
Misal, ia bercerita bagaimana menyenangkannya saat menikmati liburan bersama keluarga.
Sumber : http://lampung.tribunnews.com/2015/10/24/ini-manfaat-anak-suka-menggambar-sejak-dini

Jumat, 23 Oktober 2015

Manfaat Menggambar Bagi Kecerdasan Anak

Menggambar bermanfaat untuk mengasah kemampuan seni anak. Si kecil belajar bagaimana melukis semua hal, sesuai dengan imajinasi dan  kreativitasnya. Benda-benda yang dikenal maupun tidak dikenalnya, sosok yang biasa ia temui atau bahkan belum pernah sekalipun bertemu. Selain itu, ia juga belajar memadumadankan warna, merangkai objek gambar, sehingga terciptalah sebuah kreasi seni si kecil dalam kertas maupun kanvas.

Nah, selain mengasah kemampuan seni, menggambar juga penting karena bermanfaat untuk mengekspresikan emosi anak. Orangtua bisa melihatnya dari warna-warna yang dipilihnya hari itu, misalnya anak senang memilih warna-warna cerah, besar kemungkinan hatinya sedang gembira saat itu. Menggambar juga bisa dimanfaatkan sebagai media penyalur emosi yang positif. Daripada menangis/tantrum, salurkan emosinya dengan membuat coret-coretan di atas kertas.
Lebih dari itu, menggambar juga bisa menjadi buah ekspresi kecerdasan interpersonal anak. Bagaimana hubungan anak dengan orang-orang terdekatnya, yaitu keluarga. Bagaimana aktivitas, interaksi, dan komunikasi sehari-hari yang diekspresikan dalam gambar. Misal, ia bercerita bagaimana menyenangkannya saat menikmati liburan bersama keluarga.
Sediakan Alat Bantu Menggambar
Bantu anak agar kreativitas anak dengan aktivitas menggambar semakin meningkat.  Sediakan kertas gambar dan pensil warna. Tidak harus kertas baru/buku gambar, orangtua bisa menggunakan kertas yang baru terpakai satu sisi. Selain hemat sekaligus menerapkan prinsip reuse. Kalau anak mulai suka mencoret-coret dinding, lapisi dinding dengan plastik bening. Tak perlu seluruh dinding, cukup setinggi tubuhnya saja, namun memanjang sehingga bidang yang bisa dicoret-coret luas. Orangtua bisa membeli plastik meteran di toko plastik atau menggunakan plastik bekas laundry.
Sesekali, sediakan kertas yang agak besar dan cat air. Supaya tidak membuat berantakan rumah, lakukan di teras atau halaman. Biarkan ia menggunakan cat air sepuasnya. Di beberapa kota yang mempunyai program car free day, biasanya ada spot yang bisa digunakan anak-anak untuk menggambar di atas aspal dengan menggunakan kapur tulis. Kalau di kota Anda juga ada, boleh ajak si batita menikmati permainan ini. Kemampuan memegang pensil warna/kuas cat air bermanfaat untuk melatih kemampuan motorik halusnya.
(Sumber: Tabloid Nakita)
Sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/10/manfaat-menggambar-bagi-kecerdasan-anak

Minggu, 02 Agustus 2015

Mengenal Rumput Rumah Seni, Sanggar Melukis untuk Anak-Anak

Rumput bisa tumbuh di mana-mana. Di tanah tandus, ia tetap hidup. Bahkan jika ia tumbuh di puncak gunung, ia tentu akan lebih tinggi dari gunung itu sendiri. Filosofi ini dianut sekian lama oleh Rumput Rumah Seni sejak sekolah itu didirikan.

ASRUL RAHMAWATI
Batam
Laki-laki itu jatuh cinta pada dunia menggambar sejak lama. Pekan lalu saat ditemui KORAN SINDO BATAM, ia sedang berada di sanggar Wong Gjie Collage di Ruko Kintamani Batam Centre. Tempat itu menjadi tempat mengajarnya selain di Tembesi, Sagulung. Ia mengenakan kemeja dan celana kain hitam, sederhana sekali. Namun, di kepalanya banyak ide-ide besar bermunculan.
Muhamad Sigid Safarudin, nama laki-laki, pendiri Rumput Rumah Seni itu. Meski datang ke Batam untuk bekerja di salah satu perusahaan besar di komplek industri Batamindo, ia tidak begitu saja melepas rasa sukanya pada dunia menggambar.
“Tahun 2006 dulu saya masih bekerja di perusahaan, waktu itu gaji saya tidak mencukupi lalu saya mulai mencari tambahan,” katanya.
Otaknya waktu itu serius memikirkan bagaimana hobi serta kepiawaian menggambarnya bisa menghasilkan uang. Ia lalu memasang iklan untuk ditempel di berbagai tempat, pasang iklan di koran dan mendatangi rumah door to door untuk menawarkan jasanya mengajar menggambar.

“Waktu itu tidak banyak murid saya untuk diajar menggambar, karena private maka waktu saya juga terbatas untuk mengajar,” ujar laki-laki kelahiran Purwodadi 35 tahun yang lalu ini.
Kebanyakan anak-anak yang diajarnya adalah anak orang kaya, maka tambahan penghasilannya dapat dikatakan lumayan. Sayangnya, otoritasnya untuk mengajari anak-anak tersebut tidak bisa penuh jika mengajarnya di rumah mereka.
“Mereka sering tidak konsentrasi saat belajar karena mereka merasa rumah itu zona mereka,” katanya.
Meskipun pada awalnya niat mengajari mereka adalah untuk mencari uang tapi pada dasarnya dosen di Universitas Batam dan Universitas Riau Kepulauan itu terketuk hatinya melihat kurangnya apresiasi seni yang ada di Batam.
“Mungkin karena di sini kota industri, orang-orang datang untuk mencari uang. Tapi kan kasihan anak-anaknya menjadi korban tidak mampu mengenal seni yang sesungguhnya indah,” ujarnya.
Lalu di pertengahan 2007, ia bertemu dengan Agustian Jimmie yang memiliki sekolah bahasa Jepang di Kintamani Batam Centre. Waktu itu ia masih konsentrasi mengajar dengan menggunakan crayon, lalu 2008 ia mengembangkan konsep pembelajaran dengan cat air dan cat minyak.
“Waktu itu saya bersama-sama Agus mengajar gambar. Saya lebih suka sketsa, manga dan kartun Jepang, sedangkan Agus suka menggambarnya dengan konsep minyak dan cat,” tuturnya.
Tahun 2009, Sigid sudah berhenti untuk mengajar dari rumah ke rumah, ia mulai fokus mengumpulkan anak-anak didiknya untuk belajar di satu tempat yaitu di Ruko Kintamani, Batam Centre. Di sanalah Rumah Rumput Seni mulai tumbuh. Tahun 2010 ia kemudian membuka cabang kedua di Sukajadi.
“Di Sukajadi kami fokus untuk memberikan pelajaran menggambar dan melukis spesial untuk anak autis,” katanya.
Tahun 2011 Rumput Rumah Seni mengadakan perluasan dengan membuka cabang di Batu Aji dan mulai melakukan eksperimen workshop dengan menggambar di atas kaos.
Kelas seni yang diajarkan di sini ada beberapa kelas di antaranya kelas menggunakan media crayon, pensil warna, cat air, cat minyak dan akrilik. Kemudian juga ada kelas melukis didinding atau gravity dengan media cat minyak serta melukis di atas kaos dengan media kaos dan cat akrilik.

Menggambar bagi anak-anak autis dikatakan Sigid memiliki dampak yang positif. Semakin serius mereka belajar menggambar, psikologisnya akan semakin membaik. Pelan-pelan mereka akan mudah diarahkan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat.
Sigid hanya berharap Rumput Rumah Seni yang diasuhnya ini bisa menjadi lebih besar. Ia ingin bisa membuat kelas di luar ruangan, ia ingin kelasnya bisa menjadi destinasi wisata dan inspirasi bagi orang lain.
“Jadi selain berkegiatan seni anak-anak juga bisa lebih mencintai alam,” ungkapnya.
Kelas yang dibuka di tempat ini ada yang kelas khusus Sabtu-Minggu, namun juga ada kelas untuk sore. Rata-rata siswanya berusai mulai 7 sampai 11 tahun. Kebanyakan mereka berasal dari sekolah-sekolah di Batam seperti Sekolah Global Indo Asia, Kalista, Ulil Albab, SD Maitreya, SDN 004, SMPN 6, Sekolah Harapan Utama, SDN 07 Tiban,SD Rainbow Montisari School, Djuwita, dan Kalam Kudus Duta Mas.
Menurut Agus yang saat itu sedang bersama Sigid, harapan hidup manusia seharusnya bukan hanya tentang uang, dan bisnis saja. Tapi budaya, dan senilah yang seharusnya melengkapi hidup.
“Dengan memiliki jiwa seni maka anak-anak akan lebih berhati lembut, dan peduli dengan kehidupan sosial yang ada di sekelilingnya. Di Rumput Rumah Seni kami membimbing mereka untuk tidak takut salah saat mengapresiasikan seni,” tambahnya.(*)

Jumat, 26 Juni 2015

Warna, Gambar, dan Autisme


Ketertarikan saya dalam menggambar dan mengajar akhirnya membawa saya ke dunia anak-anak. Dan salah satunya yang tidak bisa saya lepas dan semakin menarik adalah keterlibatan saya dalam mengajar untuk anak-anak Autis. Tentu saja berhubungan dengan masalah gambar. Pada awalnya hanya berniat untuk membuat kelas gambar biasa buat anak Autis. Kemudian lama kelamaan semakin membuat saya tertarik dan menjadikan gambar media terapi bagi mereka. Sebelum saya jelaskan lebih lanjut. Apa sih yang dimaksud dengan Autisme? “Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993). Menurut Power (1989) karakteristik anak dengan autisme adalah adanya 6 gangguan dalam bidang: interaksi sosial, komunikasi (bahasa dan bicara), perilaku-emosi, pola bermain, gangguan sensorik dan motorik perkembangan terlambat atau tidak normal. Berdasarkan pengalaman saya selama satu tahun sejak tahun 2009 -2010 menunjukkan bahwa terapimengambar dapat membantu kemampuan fokus bagi anak-anak autis baik untuk anak autis low functioning autisme ( anak autis yang cenderung menyakiti diri sendiri ) ataupun anak autis dengan category high functioning autisme( anak autis yang terbiasa dengan rutinitas atau pun kegiatan yang berulang-ulang /repetitive ).

Pada pertemuan-pertemuan awal terus terang saya belum bisa menemukan metode menggambar yang tepat buat anak-anak autis. Kemudian setelah satu tahun berjalan dengan kelas seni yang berlangsung hampir sekitar 60 kali pertemuan dengan materi dasar seperti kelas seni yang saya berikan untuk anak-anak normal. Hasil gambar dari anak-anak ini tidak jauh berbeda dengan anak-anak normal. Satu hal yang membuat perbedaan adalah harus memberikan perhatian lebih pada anak-anak autis dan lebih mengarahkan mereka untuk mengikuti metode awal teknik menggambar yang diterapkan. Sedangkan untuk kreatifitas karena memang anak autis punya dunia sendiri mereka mempunyai kemampuan imajinasi yang luar biasa. Kebetulan setelah berjalan setahun diakhir tahun 2010 diadakan lomba menggambar yang diselengarakan oleh PT. Nestle Indonesiadalam acara Olimpiade Coco Crunch di beberapa kota besar di Indonesia termasuk Batam. Dan kebetulan sekali saya diberi kehormatan menjadi juri di dalamnya. Saya fikir inilah kesempatan bagi anak-anak hebat ini untuk sekedar berpartisipasi dan melihat seberapa besar kemampuan penyerapan teknik gambar yang sudah saya berikan. Selain itu sebagai terapi Interaksi Sosial & Komunikasi Sosial ( Diagnosa Autis Sesuai dengan DSM IV). Dari sinilah kemudian saya mulai mempelajari teknik yang tepat untuk mereka. Menurut saya ada beberapa cara untuk meningkatkan focus dasar bagi anak autis atau saya menyebutnya sebagai Terapi Gambar Untuk Anak Autis/ Drawing Terapish For Autism. Teknik yang dapat dilakukan antara lain : 1.Memperkaya kemampuan gambar, sama dengan teknik yang diterapkan untuk anak normal. Tujuannya untuk memberikan bekal berbagai macam obyek gambar buat anak-anak autis. 2.Teknik Obyek Bertingkat, maksud dari teknik ini adalah melatih anak-anak autis untuk menggambar mulai dari obyek sederhana dan terus meningkat disesuaikan dengan hasil gambarnya kea rah obyek yang lebih rumit. 3.Teknik Warna Bertingkat, teknik ini pada dasarnya hampir sama dengan teknik kedua hanya saja pewarnaan bidang gambar dimulai dari bidang yang sederhana dengan jumlah yang sedikit kemudian terus meningkat sampai hasil karya dari anak-anak ini menunjukkan hasil pewarnaan yang merata dan setidaknya tidak keluar dari garis-garis gambar yang diberikan. Berikut ini adalah contoh hasil gambar oleh Mey-mey seorang anak Autis dapat dilihat perbedaan gambar dan perkembangannya setelah minggu pertama dan minggu kedua. Yang perlu digarisbawahi bahwa Meymey sudah mengikuti kelas gambar selama satu tahun dan hasil gambar diatas adalah hasil gambar pada minggu pertama dan kedua bulan Januari 2011 Semoga saja dengan teknik-teknik ini dapat membantu orang tua-orang tua hebat yang dianugerahi anak-anak hebat sehingga bisa memberikan bekal bagi anak-anak istimewa ini untuk mengembangkan bakat mereka dan dapat menopang kehidupannya sebagaimana seperti sosokDonna Williams( http://www.donnawilliams.net/ ).


Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sigid/warna-gambar-dan-autisme_55007e5ba333111870511093

Sabtu, 25 April 2015

Pentingnya Kembangkan Bakat Anak dalam Melukis

KOMPAS.com - Joline dan Tobias, masing-masing berusia sepuluh dan sembilan tahun. Sejak kecil, mereka berdua gemar melukis. Sehingga, sejak usia empat dan tiga tahun mereka sudah mengikuti kursus melukis untuk mengasah bakat dan kemampuan mereka di atas kanvas. Tidak mengherankan, lukisan mereka kini sangat indah dan kaya warna layaknya pelukis profesional.


"Kami les seminggu sekali, di hari Minggu setelah (ibadah) gereja," ujar Joline dengan penuh semangat kepada Kompas Female pada acara pameran lukisan "Care for Others" yang digelar Emilie Faith Foundation, Yayasan World Harvest Indonesia, dan Heidy's Art Painting Course di Belezza Shopping Arcade, Kamis (23/4/2015).

Tobias mengaku, pada dasarnya ia lebih suka melukis ragam jenis binatang. Joline pun setuju, namun ia juga senang melukis pemandangan, seperti pegunungan berbatu, taman yang dilengkapi bangku kayu, dan pemandangan lainnya. Dalam pameran tersebut, mereka berdua masing-masing menyajikan tiga buah lukisan. Hasil penjualan lukisan mereka akan disumbangkan bagi pendidikan anak-anak kurang mampu. 

Bagi Tobias, pameran ini bukan yang pertama kali baginya. Sebelumnya, ia pernah mengikuti pameran serupa yang digelar di Galeri Nasional Indonesia. Ketika ditanya siapa yang membeli lukisannya, bocah lucu ini mengaku tidak tahu dan tidak mengenal sang pembeli. "Yang aku tahu, dia ini orang kaya. Sepertinya, dia ini orang yang sangat VIP," tukas Tobias yang disambut tawa sang ibunda. 

Lalu, dari mana inspirasi mereka ketika melukis? Mudah saja, Tobias mengaku inspirasi datang begitu saja secara spontan yang kemudian langsung dibuat sketsanya. Joline mengaku serupa, namun ia juga mencari inspirasi dari gambar-gambar maupun foto yang diperolehnya di internet. 

"Kadang-kadang kami juga dapat inspirasi saat jalan-jalan. Kalau menemukan sesuatu yang bagus kami potret untuk dilukis. Melukis itu susah, soalnya harus menarik kuas dari kanan ke kiri dan bukan ke atas dan ke bawah. Kalau sudah cukup lelah, kami minum air putih, istirahat sebentar, lalu melukis lagi," tutur Joline. 

Linna, sang ibunda, mengaku telah melihat bakat melukis kedua buah hatinya sejak masih balita. Mereka berdua, yang merupakan siswa dan siswi SD IPEKA Internasional ini, lantas didaftarkan untuk mengikuti kursus melukis. Selain untuk mengasah bakat, Linna mengaku kursus melukis juga membantu perkembangan diri sang buah hati. 

"Mereka memang suka melukis sejak kecil. Saya cukup bantu dorong bakat mereka saja. Untuk saya, hobi melukis itu cukup penting untuk mengembangkan kreativitas anak. Selain itu, yang saya tahu, melukis merupakan salah satu aktivitas yang cukup bagus untuk perkembangan motorik serta keseimbangan otak anak," ungkap Linna. 

Joline mengaku sangat senang ketika mengetahui lukisan hasil karyanya akan dijual dan hasil penjualannya disumbangkan untuk pendidikan bagi anak-anak yang kurang beruntung. "Saya tahu di luar sana banyak teman-teman yang kurang beruntung. Saya senang bisa membantu lewat sebuah lukisan, paling tidak, teman-teman yang kurang beruntung bisa mewujudkan impian mereka," terang Joline. 

Sebagai orangtua, penting untuk mengetahui bakat dan minat anak. Akan lebih bagus lagi apabila bakat tersebut diasah dan dikembangkan sebagai bekal di masa depan nanti. Di samping itu, tak ada salahnya mendidik buah hati untuk berbagi, agar mereka menyadari pentingnya mensyukuri hidup dan membantu sesama.

Sumber : http://female.kompas.com/read/2015/04/25/193000920/Pentingnya.Kembangkan.Bakat.Anak.dalam.Melukis