Rumput bisa tumbuh di mana-mana. Di tanah tandus, ia tetap hidup. Bahkan jika ia tumbuh di puncak gunung, ia tentu akan lebih tinggi dari gunung itu sendiri. Filosofi ini dianut sekian lama oleh Rumput Rumah Seni sejak sekolah itu didirikan.
ASRUL RAHMAWATI
Batam
Batam
Laki-laki itu jatuh cinta pada dunia menggambar sejak lama. Pekan lalu saat ditemui KORAN SINDO BATAM, ia sedang berada di sanggar Wong Gjie Collage di Ruko Kintamani Batam Centre. Tempat itu menjadi tempat mengajarnya selain di Tembesi, Sagulung. Ia mengenakan kemeja dan celana kain hitam, sederhana sekali. Namun, di kepalanya banyak ide-ide besar bermunculan.
Muhamad Sigid Safarudin, nama laki-laki, pendiri Rumput Rumah Seni itu. Meski datang ke Batam untuk bekerja di salah satu perusahaan besar di komplek industri Batamindo, ia tidak begitu saja melepas rasa sukanya pada dunia menggambar.
“Tahun 2006 dulu saya masih bekerja di perusahaan, waktu itu gaji saya tidak mencukupi lalu saya mulai mencari tambahan,” katanya.
Otaknya waktu itu serius memikirkan bagaimana hobi serta kepiawaian menggambarnya bisa menghasilkan uang. Ia lalu memasang iklan untuk ditempel di berbagai tempat, pasang iklan di koran dan mendatangi rumah door to door untuk menawarkan jasanya mengajar menggambar.
“Waktu itu tidak banyak murid saya untuk diajar menggambar, karena private maka waktu saya juga terbatas untuk mengajar,” ujar laki-laki kelahiran Purwodadi 35 tahun yang lalu ini.
Kebanyakan anak-anak yang diajarnya adalah anak orang kaya, maka tambahan penghasilannya dapat dikatakan lumayan. Sayangnya, otoritasnya untuk mengajari anak-anak tersebut tidak bisa penuh jika mengajarnya di rumah mereka.
“Mereka sering tidak konsentrasi saat belajar karena mereka merasa rumah itu zona mereka,” katanya.
Meskipun pada awalnya niat mengajari mereka adalah untuk mencari uang tapi pada dasarnya dosen di Universitas Batam dan Universitas Riau Kepulauan itu terketuk hatinya melihat kurangnya apresiasi seni yang ada di Batam.
“Mungkin karena di sini kota industri, orang-orang datang untuk mencari uang. Tapi kan kasihan anak-anaknya menjadi korban tidak mampu mengenal seni yang sesungguhnya indah,” ujarnya.
Lalu di pertengahan 2007, ia bertemu dengan Agustian Jimmie yang memiliki sekolah bahasa Jepang di Kintamani Batam Centre. Waktu itu ia masih konsentrasi mengajar dengan menggunakan crayon, lalu 2008 ia mengembangkan konsep pembelajaran dengan cat air dan cat minyak.
“Waktu itu saya bersama-sama Agus mengajar gambar. Saya lebih suka sketsa, manga dan kartun Jepang, sedangkan Agus suka menggambarnya dengan konsep minyak dan cat,” tuturnya.
Tahun 2009, Sigid sudah berhenti untuk mengajar dari rumah ke rumah, ia mulai fokus mengumpulkan anak-anak didiknya untuk belajar di satu tempat yaitu di Ruko Kintamani, Batam Centre. Di sanalah Rumah Rumput Seni mulai tumbuh. Tahun 2010 ia kemudian membuka cabang kedua di Sukajadi.
“Di Sukajadi kami fokus untuk memberikan pelajaran menggambar dan melukis spesial untuk anak autis,” katanya.
Tahun 2011 Rumput Rumah Seni mengadakan perluasan dengan membuka cabang di Batu Aji dan mulai melakukan eksperimen workshop dengan menggambar di atas kaos.
Kelas seni yang diajarkan di sini ada beberapa kelas di antaranya kelas menggunakan media crayon, pensil warna, cat air, cat minyak dan akrilik. Kemudian juga ada kelas melukis didinding atau gravity dengan media cat minyak serta melukis di atas kaos dengan media kaos dan cat akrilik.
Menggambar bagi anak-anak autis dikatakan Sigid memiliki dampak yang positif. Semakin serius mereka belajar menggambar, psikologisnya akan semakin membaik. Pelan-pelan mereka akan mudah diarahkan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat.
Sigid hanya berharap Rumput Rumah Seni yang diasuhnya ini bisa menjadi lebih besar. Ia ingin bisa membuat kelas di luar ruangan, ia ingin kelasnya bisa menjadi destinasi wisata dan inspirasi bagi orang lain.
“Jadi selain berkegiatan seni anak-anak juga bisa lebih mencintai alam,” ungkapnya.
Kelas yang dibuka di tempat ini ada yang kelas khusus Sabtu-Minggu, namun juga ada kelas untuk sore. Rata-rata siswanya berusai mulai 7 sampai 11 tahun. Kebanyakan mereka berasal dari sekolah-sekolah di Batam seperti Sekolah Global Indo Asia, Kalista, Ulil Albab, SD Maitreya, SDN 004, SMPN 6, Sekolah Harapan Utama, SDN 07 Tiban,SD Rainbow Montisari School, Djuwita, dan Kalam Kudus Duta Mas.
Menurut Agus yang saat itu sedang bersama Sigid, harapan hidup manusia seharusnya bukan hanya tentang uang, dan bisnis saja. Tapi budaya, dan senilah yang seharusnya melengkapi hidup.
“Dengan memiliki jiwa seni maka anak-anak akan lebih berhati lembut, dan peduli dengan kehidupan sosial yang ada di sekelilingnya. Di Rumput Rumah Seni kami membimbing mereka untuk tidak takut salah saat mengapresiasikan seni,” tambahnya.(*)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar