Tidak banyak yang bisa diutarakan, saat merasa kebingungan antara mengembangkan kemampuan gambar anak dan kreativitasnya ataukah mengikuti ekspektasi orang tua. Sebagai seorang pendidik pasti menginginkan semua muridnya menjadi berhasil atau bahkan melebihi gurunya. Tetapi dalam perjalanan ternyata banyak sekali kerikil-kerikil yang harus dilalui. Apalagi untuk mendidik anak-anak dalam seni. Menurut saya seni itu relative seperti selera seseorang. Saya suka dengan scoopy tapi banyak temen-temen yang lebih menyukai motor-motor besar kata mereka itu gagah dan terlihat macho. Tapi bagi saya kalau ditanya kenapa suka scoopy saya jawab karena saya suka dengan sesuatu yang klasik dan retro. Mungkin itulah selera yang harus dihadapi oleh seorang pendidik dengan orang tua. Bisa jadi Karen amemang pola pikir semua orang serba instant menginginkan semuanya serba cepat tanpa mau menunggu atau sabar dalam sebuah proses. Seni itu hanya bisa dilihat dari hasilnya bahkan tidak bisa diukur dengan sebuah nilai atau teknik khusus. Teknik-teknik hanya digunakan untuk sebuah target kemenangan dalam lomba melukis, mewarnai, atau program kelas seni yang harus diselesaikan. Dapat juga teknik digunaka kalau seni sudah menjadi industri kreatif dimana seorang seniman harus menyelesaikan sebuah karya seni dalam rentang waktu tertentu karena hasilnya harus segera dipasarkan memenuhi permintaan konsumen. Bagi saya akan lebih baik pada awalnya diberikan cara-cara paling mudah untuk menggambar dengan langkah awal. Daripada selalu memberikan contoh. Bagaimana menjadi bisa berkembang kalau anak didik hanya mencontoh saja. Dalam menggambar tidak pernah ada yang salah selalu ada cara untuk membuat garis yang kurang tepat menjadi tepat dan indah dilihat karena menggambar bukanlah matematika. Setahun yang lalu Ryanda seorang murid special saya selalu saja mencontoh gambar-gambar yang saya berikan . Pada akhirnya saya sadar ini bukan cara yang tepat,pada awalnya sebagai perkenalan mungkin tepat tetapi menjadi tidak tepat lagi kalau terus menerus Ryanda menjadi seorang plagiant seni. Mulai saat itulah Ryanda mulai didorong untuk tidak mencontoh gambar yang saya berikan atau hanya memberikan tema dan memintanya untuk membuat gambarnya sendiri. Meski belum terlihat hasilnya secara significant saya yakin Ryanda akan semakin kreatif dalam proses yang dilaluinya dan saya tidak perlu merasa kawatir akan ekspektasi orang tua karena yang menggambar bukanlah orang tuanya tapi Ryanda “ The Young Artis”
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sigid/kemampuan-gambar-kreativitas-ekspektasi-orang-tua_550098caa33311260d50fd70
Tidak ada komentar:
Posting Komentar