Selasa, 19 Maret 2013

Asah Kecerdasan Anak dengan Menggambar

TIDAK perlu menunggu usia TK untuk melatih motorik halus anak. Sejak dini, Anda bisa memperkenalkan kegiatan menulis ataupun menggambar kepada buah hati. Kegiatan ini sekaligus mengasah empat kecerdasan dalam dirinya.


Bermain-main dengan pensil, krayon, atau cat lukis pada sebidang kertas tentu merupakan keasyikan tersendiri bagi anak-anak. Kegiatan menulis, menggambar, atau mewarnai ini bukan hanya menyenangkan bagi mereka semata. Lebih dari itu, ada manfaat besar di balik kertas-kertas yang berserakan, baju, dan lantai yang kotor, ataupun tangan anak yang penuh jejak krayon, spidol, dan cat lukis. 

Kegiatan ini berguna untuk merangsang syaraf motorik anak. Jadi, salah satu aktivitas di taman kanak-kanak pun tak pernah absen dari belajar menggambar, melukis, dan mewarnai.
 
Psikolog Tubagus Amin Fa SPsi CTL CH CHt Cl mengatakan, menggambar memberikan kesempatan bagi anak untuk memiliki ruang kreativitas yang lebih baik dari menghafal.
 
“Jika anak-anak terlalu banyak menghafal, mereka akan cepat lupa di kemudian hari. 
Walaupun mereka bisa mengingat, namun belum tentu mereka mengerti apa yang disampaikan oleh guru,” katanya.
 
Lewat menulis ataupun menggambar, setidaknya ada empat kecerdasan yang dilatih, yaitu cerdas gerak, gambar, diri, dan cerdas bahasa. Cerdas gerak yakni saat anak membuat gambar, dia sedang melatih gerakan tangannya. Sementara, cerdas gambar adalah bagaimana anak bisa membuat berbagai bentuk yang mereka gambar. 

Cerdas diri, melalui gambar, anak bisa membuat gambar yang sesuai dengan imajinasi mereka. Adapun cerdas bahasa, anak mampu mengungkapkan apa yang ingin mereka katakan lewat apa yang mereka gambar. Lebih jauh Amin memaparkan, saraf motorik halus dapat dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan rangsangan yang berkelanjutan dan rutin.
 
“Dan sebaiknya dilakukan sejak dini. Boleh saja memberikan bayi kertas untuk dimain-mainkan selama kita awasi. Dari situ dia belajar memegang,” ungkap psikolog Aminfainstitute Lembaga Riset dan Konsultan Edukasi Berbasis Brain Nased and Holistic (Pendidikan Ramah Otak) itu.
 
Setiap anak merupakan pribadi yang berbeda. Mereka memiliki kecerdasan gerak (bodily kinestetik) bakat, kecenderungan, dan kecerdasan motorik halus yang tidak sama.
Perbedaan ini dipengaruhi oleh multiple intelligence (gaya belajar) anak dan stimulasi yang didapatkannya, terutama pada masa pertama pertumbuhan atau yang lebih dikenal dengan goldenage.
 
Tentunya, mengasah kecerdasan motorik ini dilakukan bertahap sesuai usia. Pada anak usia tiga tahun misalnya, motorik anak yang lebih banyak digunakan adalah motorik kasar. 
Biasanya, anak usia ini akan mulai menggambar mengikuti bentuk, menarik garis, dan mulai menggunting.
 
“Di bawah 3 tahun, biasanya anak akan membuat tulisan semacam benang kusut. Biarkan saja mereka tetap aktif menulis,” kata Amin.
 
Pada usia empat tahun, anak mulai bisa menggambar yang lebih jelas, bermain gunting-lipat, dan membuat bentuk dari lilin mainan. 
Ajari cara menggunting secara zigzag misalnya. Kemudian pada usia lima tahun, anak sudah bisa menyusun balok permainan, mewarnai lebih rapi tanpa keluar garis, dan meniru tulisan.
 
Di usia setelahnya, 5–12 tahun, anak-anak sudah mulai mengerti dan memasuki masa sekolah dan jadikan kegiatan menulis atau menggambar sebagai bagian dari aktivitasnya. Ya, pada masa ini justru mereka harus semakin sering menggambar. Ruang kreativitas ini adalah kecerdasan yang lebih baik dibanding menghitung dan menghafal. Jadi, anak-anak lebih bisa memahami pelajaran mereka di sekolah.
 
“Menggambar bukan hanya bentuk mengekspresikan diri. Lebih dari itu, menggambar adalah aktivitas intelektual, cara untuk memahami dunia, mengeluarkan pikiran dan gagasan anak,” kata Eileen Adams, seorang pendidik yang aktif dalam kampanye menggambar, dilansir dari guardian.co.uk. 

“Visualisasi lewat menggambar yang dilakukan anak amat vital bagi pemahaman mereka pada masa mendatang, misalnya untuk pelajaran geografi atau matematika. Mereka mengembangkan kemampuan membuat peta dan simbol-simbol lewat gambar,” sambungnya.
 
Bagi orang tua dengan anak yang suka menggambar, siap-siap saja tembok rumah menjadi sasaran mereka menuangkan kreasinya. 

Meskipun Anda sudah menyiapkan kertas kosong atau buku gambar, tapi tetap saja anak lebih suka mengincar dinding sebagai pelampiasan imajinasi mereka. Mengapa demikian? Sebab, saat menggambar di dinding, mereka merasa ikut terlibat di dalam kisah yang mereka gambarkan.
 
“Melalui bidang yang lebih luas, mereka lebih bebas menggambar dan masuk ke dalamnya,” ujar Amin. 

Rasa terlibat dalam dunia di dalam gambar itu tidak akan didapat ketika anak menggambar di bidang kertas. Selain itu, menggambar di dinding memberi posisi yang lebih nyaman karena memungkinkan kontrol tangan dan mata yang lebih baik. Dengan cara ini, menggambar menjadi jauh lebih menyenangkan bagi si kecil. 

Namun, di samping menggambar, saraf motorik halus juga bisa dilatih melalui kegiatan menyusun balok, memasukkan benda ke dalam lubang, membuat garis, melipat dan merobek kertas, atau mewarnai. Semua aktivitas ini dapat mengeksplorasi kreativitas anak-anak, merangsang motoriknya, dan fungsi kerja otak dalam belajar karena otak dan otot merupakan hal yang saling sinergis.
(tty)
Sumber : http://lifestyle.okezone.com/read/2013/03/19/196/778420/asah-kecerdasan-anak-dengan-menggambar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar